TAMAN MONJARI SORE HARI

Di bangku aku berbaring dipukau cerah langit sore juga kesiur kesejukan dari rindang pepohonan Dua bocah berkejaran memutari monumen pejuang gelak keceriaan mereka setara dengan sorak-sorai kerinduan yang membuatku tiba setelah perjalanan menempuh Jauh Di pintu gerbang sebelah timur cintaku berjalan mendekat sembari melambaikan tangan dan aku pun tersadar dari tidur (kra, 2018)

SOLO MALAM HARI

Solo malam hari. Loji Gandrung senyap dibalut redup lampu dan rimbun pepohonan. Wangi masakan menyebar dari tenda kuliner sepanjang Jalan Slamet Riyadi “Itu angkringan, dan kalau di sana menunya selat dan timlo,” ujarmu. Lantas aku pun menukas kapan kau akan suguhkan masakanmu yang bercintarasa? Aku mengisap rokok dalam-dalam mengembuskannya perlahan  dan kau mengulum bibir lantas…

MENGENANG SOE

Kursi rotan di beranda mengoceh tentangmu yang biasa duduk sore-sore sambil ngeteh. Meja kecil di sebelahnya turut pula menimpali dengan lirih dan masih di sekitaran beranda, dekat tangga pot-pot tanpa bunga bertutur merindukan siramanmu saban pagi. Sedang aku pura-pura tak tahu bahwa peristiwa itu hanya berlangsung dalam benakkku sebelum jendela tertutup sempurna. Di ruang tamu…

HARI YANG HANGAT UNTUK TIDAK BERTANYA

/1/ Rekah fajar dari balik pagar Sepantun rumpun mawar Langkah cemas di tanah basah Berbaur tapak unggas Hari yang hangat Untuk tidak bertanya Beberapa depa dari beranda Aku menunggu di luar bahasa: Selengkung senyum atau aksen manis Kerlingan yang sehening gerimis /2/ Rekah fajar dari balik pagar Memudar di tegel warna amber Seekor kucing bergeming…

SENTIMENTAL

derit mesin jahit di persimpangan pasar bagai sentimental larik rumpang sajak tak rampung menyeru kepada seluruh indera dari haru menuju ambung itu sebagai petualang bernasib malang sepi dalam diri membentangkan laku jeri deritan itu mungkinkah deritaku? pulanglah pulang si anak bengal sebelum ajal ibu datang bertandang menyerupai bau pasar segala yang riuh akan lintuh dan…

SABDA DUSUN VIII, GONJEN

— buat Rendy Wijaya Mungkin cuma gurau namun kadung jadi setrum yang mendidihkan air bagi kopi saat kau mengenang rumah juga silsilah dan mimpi pada gulungan kabel itu. Masih ada nyala harapan seterang sorot lampu jauh yang berkilau di kaca spion atau sependar rekah fajar menyapa bola matamu yang menyimpan rindu ibu. Kau akan kembali sebab…

SEBUAH SAJAK GAGAL MELUNGKAH GIGIL

Usapan telapak tanganmu di punggungku Telah berubah jadi jalan kecil yang dilintasi Sajak panjang tentang badan meriang Dan sepotong koyo yang kau tempelkan Di jidatku hanyalah dekor bagi sedaras doa Atau sebagai peredam kecamuk pikiran Kedua telingamu turut pula meraba aksen Manis yang gemetar dan sedikit menggigil Ketika aku menyampaikan terima kasih Sesudah menyebut namamu…